Hidup itu SUSAH, maka berbagilah…

Sedikit aneh mungkin dengan judul postingan saya kali ini. Hidup itu sudah susah, kenapa masih bersusah susah untuk berbagi?? Berbagi identik dengan memberi kan sesuatu kepada orang lain. Berikut ini ceritanya semoga akan menjawab Judul dari postingan saya ini.
Bulan Ramadhan, adalah bulan yang istimewa bagi umat Muslim. Ada banyak nama untuk bulan Ramadhan. Selain nama-nama yang telah dikenal oleh umat Islam, Nabi Muhammad SAW menyebut bulan Ramadhan sebagai Bulan Kesabaran, Bulan Ampunan, dan Bulan Berbagi.
Disuatu sore pada saat saya pulang dari rumah saudara dengan mengendarai sepeda motor, saya disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur kurang lebih sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan.
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak dikayuhnya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran, Penyapu jalan, Tukang asongan, sampai Tuna wisma.
Pemandangan ini membuat saya tertarik, pikiran saya langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran saya, saya pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan, setelah itu saya langsung menyapa anak tersebut dan langsung saya ajak berbincang-bincang. “Dek, boleh kakak bertanya?”. “Silahkan kak”,jawab si anak kecil tadi. “kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta tadi, itu apa ?”, oh… itu cuman bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak!, dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya. Oh.. tidak!, kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?
Lalu, Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma”, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasihan banyak orang, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan kami tidak memiliki tempat tinggal yang layak, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.
Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi jika saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.
Yang ibu ku selalu katakan “ hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita, kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus di tunda tunda.
Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta,” Apa yang kita bawa”?. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati saya, saat itu juga saya merasa menjadi orang yang tidak berguna, karena sering sekali saya lupa kepada sesama, bahwa semua yang kita peroleh hari ini bukan kesuluruhannya milik kita. Karena ada sebagian rijeki kita itu milik orang orang miskin dan anak yatim.
Selama ini saya merasa menjadi orang hebat dan pasti akan sukses dikemudian hari dengan pendidikan layak, orang tua yang berkecukupan, namun untuk hal seperti ini, saya merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, saya malu dan sangat malu. Yah.. Tuhan, Ampuni hambaMu ini, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu kelak.
Terima kasih adik kecil, kamu bagaikan teguran dari Tuhan yang menyadarkan aku dari tidur kesombogan dan keangkuhan ku.
Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri,
Mulailah berbagi hari ini juga,, karena kita tak tau sampai kapan umur kita. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk berbagi, seperti dibulan Ramadhan ini kita dapat berbagi dengan membagikan takjil. Ataupun jika kita tak mampu, cukup berbagi semampu kita. Karena Tuhan Maha Melihat apapun yang kita lakukan.
Hiduplah untuk memberi sebanyak banyaknya, lalu lupakan itu!
